Lamborghini Huracán LP 610-4 t

Begitulah kisah hidup Cut Miranza
yang diceritakan kepada Hamdani
dari media ini beberapa waktu lalu
di Pengadilan Negeri Lhokseumawe,
seusai persidangannya dan dihubungi
beberapa kali di Rutan Lhokseumawe.
Seperti apa pengakuan
Cut? Inilah penuturannya.
Aku seorang gadis yang dilahirkan
di Kabupaten Pidie atau yang
lebih dikenal sebagai penghasil kerupuk
mulieng. Latar belakang keluargaku
tidaklah bisa dikatakan sebagai
sebuah keluarga yang bahagia dan
harmonis. Hal ini karena orangtuaku
sering cek cok dan akhirnya berujung
dengan perceraian. Ayah dan ibuku
yang sering ribut hingga akhirnya
bercerai dan masing-masing memilih
untuk menikah lagi.
Walaupun keluargaku tidak harmonis,
tetapi tidak mempengaruhi
sifat keseharianku, karena aku
adalah sorang gadis periang yang
mempunyai cita-cita menjadi seorang
yang ahli di bidang kesehatan
masyarakat. Karena cita-cita
tersebut, aku memilih kuliah di salah
satu Fakultas Kesahatan Masyarakat
swasta yang ada di kota Lhokseumawe.
Saat diterima kuliah, aku merasa
sangat berbahagia, aku merasa tidak
lama lagi aku akan menggapai citacitaku.
Aku tumbuh menjadi gadis
CINTA BUTA
MENGANTARKU
KE PENJARA
periang seperti umumnya gadis-gadis
lain seusiaku. Punya rasa cinta
dan ingin dicintai. Menurut temanteman,
aku berwajah manis dan
tidak heran banyak laki-laki yang
naksir padaku.
Sampai suatu malam aku berkenalan
dengan seorang pria, saat aku
dan beberapa kawan asramaku sedang
membeli pisang goreng di
salah satu warung langganan kami.
Tiba-tiba datang pria tadi, menghampiri
kami, dan memperkenalkan
dirinya dengan nama Toni. Dia mengaku
bekerja sebagai salah seorang
tenaga satuan pengamanan di Bank
BTN Lhokseumawe. Setelah berbasa-
basi sejenak dia langsung pergi
setelah membayar pisang goreng
yang kami beli.
Ternyata, itu bukanlah pertemuan
pertama, karena beberapa hari
kemudian aku kembali bertemu dengan
Toni. Pertemuan kali ini jadi lebih
akrab dan Toni mempunyai perhatian
yang lebih terhadapku. Hal
ini kuketahui dari teman-temanku
dan teman-teman Toni. Dia berhasil
mendapatkan nomor handphone ku.
Singkat cerita setelah beberapa
kali pertemuan dan saling SMS
akhirnya resmilah aku dan Toni berpacaran.
Sebenarnya aku tidak terlalu
mudah untuk ditaklukkan, tapi
gaya Toni yang sangat meyakinkan
dan gaya berbicaranya yang
menawan membuat aku akhirnya
menyerah dengan perasaanku.
Maka berpacaranlah kami, harihari
begitu membahagiakan sampai
suatu hari ada ganjalan kecil dalam
hubungan kami. Aku mengetahui
dari salah seorang kawan Toni bahwa
ia sudah berumah tangga,
akhirnya aku bertanya pada Toni
tentang kebenaran berita ini. Awalnya,
dia agak berbelit-belit, akhirnya
Toni mengaku juga. “Memang benar
abang sudah berumah tangga dek,
tapi abang sangat mencintai dan
menyayangi adek,” ujarnya bergetar
dengan wajah memelas sangat meyakinkan.
“Tapi kenapa abang tidak berterus
terang sejak awal dari pertemuan
kita? Abang penipu!” ujarku
marah. “Sabar, sabar dek! Sebenarnya
dari awal abang sudah ingin
berterus terang sama adek, tetapi
abang sangat takut kehilangan adek,
abang benar-benar mencintai adek.
Sumpah!” Ujarnya penuh keyakinan.
“Tapi abang telah nyakitin
perasaan adek dengan kebohongan
abang selama ini…” ujarku bergetar
dan tanpa terasa dua tetes air bening
jatuh di kelopak mataku. “Maafkan
abang dek, abang tidak bermaksud
nyakitin adek. Abang akan menikahi
adek dan menceraikan istri abang.
Selama ini abang memang tidak bahagia
dengan perkawinan abang
ini,” kata Toni seperti diutarakan
Cut.
Mendengar kata-kata terakhirnya,
aku merasa terhanyut dan pasrah
saat pertama kali setelah pertengkaran
kecil itu, Toni “menjamahku”.
Sebagai seorang gadis yang masih
awam dalam masalah seks, aku benar-
benar terbuai dengan permainan
Toni yang sudah berpengalaman.
Akhirnya setelah semuanya terjadi,
kehormatanku telah pergi dan aku
kembali menangis dan menyesali.
Ternyata cinta telah membutakan
kami. Kembali Toni dengan gaya meyakinkan
memohon maaf atas kelancangannya
tersebut, dan ia mengaku
akan bertanggung jawab terhadap
apa yang telah dilakukannya. Mendengar
kata-katanya aku kembali tenang,
dan aku berpikir untuk apa
menangis toh semuanya telah terjadi,
nasi telah menjadi bubur.
Setelah kejadian pertama kami
seperti lepas kendali, setiap ada
kesempatan kami selalu mengulang
perbuatan terlarang yang terkutuk
tersebut. Aku juga tidak sanggup
menolak setiap keinginan Toni, aku
telah terlena dan dibutakan oleh belaian
dan kata-kata Toni yang
menyejukkan.
Tetapi, satu hal yang sangat menyiksaku
selama berhubungan dengan
Toni adalah sikapnya yang sangat
cemburuan, kemanapun aku pergi
dan dengan siapapun aku bersahabat
terutama teman laki-laki, dia
sangat marah. Sehingga dengan sikapnya
ini aku merasa terkungkung
dalam pergaulanku. Tetapi selain
sikap cemburunya yang kelewatan,
tidak ada hal yang membebaniku berpacaran
dengan Toni. Karena dia begitu
baik dan perhatian. Semua kebutuhanku
dipenuhinya dan aku juga
dibelikan barang-barang mewah.
Satu hal yang selalu mengganjal
adalah Toni selalu mendesakku untuk
segera menikah, hal ini sulit kupenuhi
karena aku masih kuliah,
sehingga aku selalu mengulur-ngulur
waktu. Sehingga hal ini sering
mengundang pertengkaran-pertengkaran
kecil.
Sampai suatu hari kami membuat
janjian untuk bertemu di tempat biasa
kami memadu kasih, yakni di
sebuah kamar sempit di tempat kerja
Toni yang terletak di belakang
Bank BTN Lhokseumawe. Dan halhal
terlarang kembali terjadi, padahal
saat itu aku sedang datang bulan
tapi setan memang benar-benar
kuat menggoda kami, aku benar-benar
terje